PERTEMUAN DI LISTRA

Baca: KISAH PARA RASUL 14:6-20


Bacaan tahunan: Kejadian 28-30

Bertemu dengan orang-orang dari suku bangsa yang berbeda dengan kita berarti berhadapan dengan hal-hal yang baru dan asing: bahasa, adat istiadat, pola pikir dalam menilai sesuatu, kepercayaan, dan lain-lain. Karenanya, saat memasuki daerah baru, mengalami shock culture atau gegar budaya adalah hal yang wajar. Ini juga menjadi salah satu tantangan bagi para pemberita Injil.

Saat bersama Barnabas memberitakan Injil di Listra, Paulus menyembuhkan seorang yang lumpuh sejak lahirnya. Melihat mukjizat itu, orang banyak mengira mereka adalah dewa-dewa yang turun ke bumi. Mereka berpikir bahwa Barnabas adalah dewa Zeus, dan Paulus adalah Hermes, juru bicaranya. Penduduk setempat berbicara dalam bahasa Likaonia. Lalu imam dewa Zeus membawa hewan korban dan berbagai persembahan untuk memuja para rasul itu.

Respons Paulus juga asing bagi mereka. Ia mengoyakkan pakaiannya, sebuah budaya Yahudi sebagai tanda perkabungan dan berdukacita atas perbuatan mereka. Tetapi penduduk Listra tidak memahaminya. Situasi itu kemudian dipakai para penentang Injil untuk memperkeruh suasana. Akhirnya Paulus dan Barnabas dilempari batu hingga disangka telah mati.

Pemberitaan Injil memang tidaklah mudah, terlebih saat berhadapan dengan orang-orang dari budaya berbeda. Karenanya kita perlu terus belajar memahami orang lain, agar penyampaian Injil makin efektif. Kita juga perlu berdoa buat para pemberita Injil, agar Allah memampukan mereka dalam mewartakan Kabar Baik di mana saja. --HT/www.renunganharian.net


MEMBAWA INJIL HINGGA KE UJUNG BUMI MENUNTUT KITA TERUS BELAJAR MEMAHAMI ORANG LAIN.


Navigation

Change Language

Social Media