PENGEMUDI PIKIRAN

Baca: FILIPI 4:2-9


Bacaan tahunan: 2 Korintus 1-4

Seorang pria mengajak putranya jalan-jalan naik bus. "Ayah, aku akan duduk di kursi paling depan," kata putranya. "Jangan!" cegahnya. "Itu kursi pengemudi. Kita penumpang duduk di belakang." Besoknya pria itu mengantar putranya ke sekolah naik mobil pribadi. "Ayah mau duduk bersamaku di belakang?" tanya putranya. "Tidak Nak!" ia tersenyum, "Karena ayah mengemudi."

Peran kita: penumpang dan pengemudi. Kapan kita sebagai penumpang dan kapan sebagai pengemudi? Untuk perjalanan kehidupan sehari-hari, peranan kita sebagai penumpang. Sang Pengemudi ialah Tuhan. Biarkan Tuhan membawa kita melintasi rute yang Dia inginkan. Tetapi untuk pikiran, kita sang pengemudi. Kita bertugas mengarahkan ke mana pikiran itu pergi. Segala yang melintas di pikiran kita ialah tanggung jawab kita sendiri. Rasul Paulus menuturkan nasihat untuk membantu kita menjadi pengemudi pikiran yang baik. Pertama, pergi menghindari jalur yang salah, yakni pikiran mengenai kekhawatiran. Alih-alih khawatir, kita dapat menyatakan keinginan kepada Tuhan (ay. 6). Kedua, melaju melintasi jalur yang benar. Caranya? Berpikir mengenai hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, disebut kebajikan dan patut dipuji (ay. 8).

Adakalanya kita menjadi lengah. Seharusnya mengemudikan pikiran, malah duduk santai di kursi penumpang. Segera kemudi diambil alih oleh iblis! Diarahkannya kita menuju jalur kekhawatiran. Alhasil kita kerap diliputi perasaan takut, cemas dan gelisah. Saat ini, ambil kembali kendali itu! Duduklah di kursi pengemudi yang memang Tuhan tetapkan untuk kita. Selanjutnya, putar kembali pikiran ke jalur benar, yaitu berpikir mengenai hal-hal yang Paulus tuturkan.
-LIN/www.renunganharian.net


JANGAN ABAIKAN KURSI KEMUDI PIKIRAN YANG ADA DI POSISI PALING DEPAN KARENA DI SITULAH TEMPAT DUDUK KITA!


Navigation

Change Language

Social Media