PENGUASAAN DIRI YANG BERTUMBUH

Baca: GALATIA 5:16-26


Bacaan tahunan: Bilangan 7

Dahulu Johny begitu mudah tersinggung, bahkan dengan hal-hal sepele seperti soal makanan, janji yang mendadak dibatalkan, menunggu kedatangan orang terlalu lama, atau ketika situasi tak berlangsung sesuai keinginan. Nah, seiring dengan bertambahnya usia, Johny mulai berpikir bahwa tersinggung atau marah karena hal-hal sepele tidak hanya sia-sia, tetapi juga menandakan penguasaan diri yang lemah. Pemahaman baru ini membuat Johny mulai berubah, bahkan kini ia bisa dengan santainya merespons keadaan yang dahulu bisa memantik emosinya dengan cepat.

Salah satu cara menakar pertumbuhan dalam penguasaan diri sebenarnya tidak sulit. Cukup bandingkan reaksi kita sekarang terhadap hal-hal yang dahulu membuat kita cepat marah, tersinggung, atau sakit hati. Jika kita mulai bisa bereaksi dengan positif, artinya penguasaan diri kita bertumbuh. Sebaliknya jika reaksi masih sama, bahkan cenderung negatif, berarti kita masih perlu berjuang dalam penguasaan diri. Sasaran kita penguasaan diri yang semakin matang, seperti buah matang yang terasa nikmat, begitu pula kelak buah dari penguasaan diri kita pun dapat dinikmati oleh orang lain, bahkan mereka akan memuliakan Allah karenanya.

Nah, mengakhiri renungan ini, mari lakukan evaluasi diri secara cepat terkait hal-hal di mana kita merasa masih berjuang dengan penguasaan diri. Mintalah kasih karunia Tuhan supaya kita dimampukan untuk bertumbuh dalam penguasaan diri, karena buah dari penguasaan diri itu selalu mengarah pada kebaikan, baik bagi kita maupun orang lain. --GHJ/www.renunganharian.net


PENGUASAAN DIRI BUTUH PROSES BERTUMBUH, TETAPI BUAHNYA AKAN TERASA NIKMAT.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media