KARENA NILA SETITIK

Baca: Pengkhotbah 9:13-18


Bacaan tahunan: Yehezkiel 46-48

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga -- begitu bunyi sebuah peribahasa lama. Sejujurnya, kita ini terbiasa menaruh perhatian pada hal-hal yang besar. Prestasi besar. Bisnis raksasa. Jumlah besar. Kaum pembesar. Pokoknya, semua yang besar. Sebaliknya, perkara-perkara kecil cenderung luput dari perhatian atau bahkan sengaja diabaikan. Namun bencana wabah yang mengguncang semenjak awal tahun ini menyentak kita. Virus kecil menghajar dunia ini!

Penulis kitab Pengkhotbah terus mengingatkan akan liku-liku kehidupan "di bawah matahari" yang fana ini. Pasal 9:13-10:20 mengandung nasihat tentang pentingnya kita waspada terhadap kelalaian-kelalaian kecil yang berpotensi mengundang dampak buruk teramat besar. Ibarat bahayanya nila setitik yang merusak susu sebelanga. Di antaranya ialah kalau kita mengabaikan pendapat atau meremehkan kemampuan seseorang hanya karena ia orang kecil-padahal ia mampu memberi jasa yang menyelamatkan seluruh kota (ay. 15).

Segala yang besar dalam kehidupan ini dibangun dari yang kecil. Dari sedikit kemudian menjadi bukit. Maka, sungguh tak pantas kita mengabaikan hal-hal kecil, perkara-perkara sederhana, dan kaum bersahaja. Kita tidak mensyukuri datangnya wabah. Bencana tetaplah bencana. Tetapi bahwasanya bencana ini memaksa kita untuk kembali menghargai dan berfokus kepada perkara kecil, kebiasaan harian yang sepele, tindakan sederhana tapi mulia, nasib kaum jelata-itu adalah kebaikan tersendiri. Semoga ketika ini terlewati kita semua menjadi lebih baik. Bukankah Yesus sudah mengingatkan supaya kita setia akan perkara-perkara kecil? (Luk. 16:10). --PAD/www.renunganharian.net


SETIAP PERKARA KECIL BERPOTENSI MENJADI BESAR BAIK POSITIF MAUPUN NEGATIF. BIJAKSANALAH MENGELOLANYA.


Navigation

Change Language

Social Media