Gita Bakti · No. 248
JIWAKU, MARI NYANYI!
Du, Meine Seele, Singe
- Komposer
- Johann Georg Ebeling 1666
- Penulis
- Paul Gerhardt 1653, terj. H.A. Pandopo 1987
- Nada dasar
- 1=Bes 2/4, 3/4
1.
Jiwaku, mari nyanyi! Tuhanmu pujilah,
yang dalam t’rang surgawi dipuji, disembah.
Hendak di dunia ini ‘ku turut bermazmur,
selagi ‘ku di sini, pada-Nya bersyukur.
2.
Bahagialah selalu yang beriman penuh
kepada Allah Yakub, Penolong yang teguh.
Tiada manusia hebat dan mulia,
yang menandingi Dia; abadi kasih-Nya.
3.
Dia yang Mahakuasa, Pencipta semesta;
dibuat-Nya angkasa dan bola dunia,
seluruh isi bumi, hidup yang tersebar,
segala yang menghuni bahari yang besar.
4.
Dia yang Mahaadil, tindakan-Nya bersih
dan Ia memberkati yang tulus pekerti.
Tuhan tetap setia selama-lamanya
dan korban kelaliman dibela oleh-Nya.
5.
Dia yang Mahakasih, Penolong kaum lemah.
Yang tak berharap lagi dibuat-Nya lega,
yang lapar boleh makan, Tuhan yang memberi,
tawanan dibebaskan dari tempat ngeri.
6.
Yang buta dicelikkan, ditopang yang rebah,
insan yang dikucilkan kembali harkatnya.
Tuhan menaruh kasih kepada yang benar,
tetapi orang fasik celakanya besar.
7.
Bolehkah aku ini manusia lemah
memuji, menghampiri yang Mahamulia?
Namun, selaku warga di kerajaan-Nya,
‘ku sorak: Tuhan Raja selama-lamanya!
Jiwaku, mari nyanyi! Tuhanmu pujilah,
yang dalam t’rang surgawi dipuji, disembah.
Hendak di dunia ini ‘ku turut bermazmur,
selagi ‘ku di sini, pada-Nya bersyukur.
2.
Bahagialah selalu yang beriman penuh
kepada Allah Yakub, Penolong yang teguh.
Tiada manusia hebat dan mulia,
yang menandingi Dia; abadi kasih-Nya.
3.
Dia yang Mahakuasa, Pencipta semesta;
dibuat-Nya angkasa dan bola dunia,
seluruh isi bumi, hidup yang tersebar,
segala yang menghuni bahari yang besar.
4.
Dia yang Mahaadil, tindakan-Nya bersih
dan Ia memberkati yang tulus pekerti.
Tuhan tetap setia selama-lamanya
dan korban kelaliman dibela oleh-Nya.
5.
Dia yang Mahakasih, Penolong kaum lemah.
Yang tak berharap lagi dibuat-Nya lega,
yang lapar boleh makan, Tuhan yang memberi,
tawanan dibebaskan dari tempat ngeri.
6.
Yang buta dicelikkan, ditopang yang rebah,
insan yang dikucilkan kembali harkatnya.
Tuhan menaruh kasih kepada yang benar,
tetapi orang fasik celakanya besar.
7.
Bolehkah aku ini manusia lemah
memuji, menghampiri yang Mahamulia?
Namun, selaku warga di kerajaan-Nya,
‘ku sorak: Tuhan Raja selama-lamanya!

