MELATIH KESABARAN

Baca: Amsal 16:1-33


Bacaan tahunan: Roma 1-3

Konon, Socrates memiliki istri bernama Xanthippe yang dikenal cerewet dan gemar mengomeli, juga mengkritiknya dengan keras. Suatu ketika, ketika sang istri sakit, beberapa teman Socrates berkata kepada filsuf terkenal itu, "Kini engkau beruntung karena untuk sementara tak mendengar kritikan dan omelan istrimu." Namun, di luar dugaan Socrates menjawab, "Tidak mendapat kritikan sesungguhnya membuat aku sedih. Aku jadi kehilangan kesempatan untuk melatih kesabaran."

Melatih kesabaran memang dapat dilakukan dengan banyak cara. Bagi Socrates, kesabarannya semakin terlatih ketika menghadapi omelan dan kritikan istrinya. Kesabaran juga dapat dilatih saat menghadapi kenakalan anak, klien yang punya banyak kemauan, situasi jalan raya yang macet, orang yang selalu mengelak membayar utang, dan masih banyak lagi. Alkitab mencatat orang sabar sebagai pribadi yang hebat, bahkan melebihi pahlawan atau orang yang berhasil merebut kota. Kesabaran, yang menjadi salah satu buah Roh (Gal. 5:22), rasanya juga menjadi karakter yang masih relevan dan sangat diperlukan dalam relasi dengan sesama, termasuk dalam menjalani hidup bersama pasangan!

Jadi, bagaimanakah cara Anda merespons "ujian kesabaran" yang Tuhan berikan melalui orang-orang di sekitar atau situasi yang Anda alami sehari-hari? Bertahanlah dalam menjalani semua proses itu, karena jika buah kesabaran kita sudah matang, hasilnya akan sangat positif. Begitu pula orang-orang di sekitar kita pun akan bersyukur atas perubahan yang kita alami. --GHJ/www.renunganharian.net


JIKA WAKTUNYA TIBA, BUAH DARI KESABARAN KITA TAKKAN PERNAH DIRASAKAN MASAM.


Navigation

Change Language

Social Media