TETAP BERLARI MESKI LEMAH

Baca: YEREMIA 20:7-18


Bacaan tahunan: Ayub 29-31

Seorang pria disabilitas ingin mengikuti lomba maraton di kotanya. Beberapa temannya menasihati untuk mengurungkan niatnya itu mengingat medan lomba yang berat. Dengan tenang pria itu menjawab, "Tenang saja, di mata orang-orang mungkin aku terlihat lemah, tetapi aku ingin membuktikan kalau tubuh lemahku ini tidak menghalangiku untuk menyelesaikan lomba." Pria itu memang tidak menjadi juara, tetapi ia tiba di garis akhir dengan air mata kemenangan, sekalipun di urutan terakhir.

Yeremia juga pernah mengalami tekanan batin yang berat. Sebagai nabi, ia sering ditolak, dihina, bahkan dipenjara karena menyampaikan firman Tuhan. Banyak orang menertawakannya. Dalam kelemahan dan keputusasaannya, ia hampir menyerah dan bahkan menyesali hari kelahirannya (ay. 18). Sungguh, di balik ratapannya, saya merenungkan pergumulan seorang hamba Tuhan yang jujur. Yeremia memang mengalami kelemahan, tetapi ia memilih untuk setia. Darinya, saya belajar bahwa kekuatan sejati tidak datang dari dalam dirinya, melainkan dari Tuhan yang menyertai di tengah penderitaan.

Apakah kita sedang berada di titik lemah seperti Yeremia? Selama ini kita merasa telah memberikan segalanya dan berusaha setia menjalani panggilan Tuhan, tetapi bukan penerimaan yang kita dapatkan, sebaliknya penolakan. Di titik lemah itu hati kita sedang diuji, apakah kita memilih berhenti atau terus melangkah dengan setia. Apa pun kelemahan kita, kiranya kita dimampukan Tuhan untuk menyelesaikan pertandingan iman kita dengan setia. --SYS/www.renunganharian.net


SEKALIPUN TIDAK DIRESPONS DENGAN BAIK, TUHAN MENGHENDAKI KITA TETAP SETIA MENYELESAIKAN PANGGILAN-NYA.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media