MENDIDIK HATI NURANI

Baca: ROMA 12:1-2


Bacaan tahunan: 1 Tawarikh 3-5

Hati nurani tidak terbentuk dalam sekejap. Ia lahir dari pergumulan yang kadang panjang dan tak mudah. Ia bisa berubah, ia bisa berkembang. Dan, kita dipanggil untuk mendidik nurani kita, yakni mengarahkan nurani kita agar ia makin berkualitas.

Rasul Paulus berkata, "Berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna" (ay. 2). Rasul Paulus berbicara tentang perubahan dalam diri yang terjadi oleh pembaruan budi, tentang perubahan hati nurani. Rasul Paulus mendorong kita untuk mendidik hati nurani, agar nurani kita makin sesuai dengan kehendak Tuhan.

Pertanyaannya, dengan apa, dan bagaimana?

Sesungguhnya, serius menggumuli sesuatu-tulisan, foto, audio, video, atau kombinasi keempatnya, baik fiksi maupun nonfiksi, juga peristiwa, pengalaman, perasaan, situasi, fakta, baik negatif maupun positif-akan mengasah nurani kita menuju kualitas yang lebih baik. Namun, ada catatan: Pergumulan itu kita lakukan dengan penuh hormat kepada Tuhan, kita menakar semuanya dengan kehendak Tuhan. Dan, satu lagi: Pergumulan itu kita lakukan dengan jujur: mengakui yang salah sebagai salah dan meninggalkannya, mengakui yang benar sebagai benar dan merangkulnya. Dengan cara itu, nurani kita akan terasah menjadi makin benar, makin tajam, makin peka, makin kokoh, dan makin terbuka.

Bahan untuk mendidik nurani tersedia melimpah. Hal yang diperlukan hanyalah kemauan yang sungguh untuk mengasah nurani dari waktu ke waktu. --EE/www.renunganharian.net


KITA DIPANGGIL UNTUK MENDIDIK HATI NURANI KITA AGAR IA MAKIN BENAR, MAKIN TAJAM, MAKIN PEKA, MAKIN KOKOH, DAN MAKIN TERBUKA.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media