MEMBUKA HATI

Baca: WAHYU 3:14-22


Bacaan tahunan: Yosua 19-21

Jemaat Laodikia berlimpah secara materi. Karena itu mereka merasa nyaman dan aman. Mereka berpuas diri secara rohani. Malangnya, Tuhan justru menganggap mereka suam-suam kuku. Tidak berapi-api dalam iman dan tidak menyadari kebutuhan akan Tuhan. Mereka melarat, malang, miskin, buta dan telanjang (ay. 17). Karena itu, Tuhan menasihatkan mereka untuk "membeli emas yang telah dimurnikan dalam api", yakni kekayaan rohani yang sejati dari Tuhan, "pakaian putih", yakni hidup yang benar di hadapan Allah, dan "minyak pelumas mata", yakni kepekaan rohani untuk melihat kebenaran.

Yesus menggambarkan diri sebagai seorang yang mengetuk pintu, menanti sang pemilik rumah membukanya. Yesus menunggu untuk dapat masuk ke dalam hati jemaat, untuk menegur mereka supaya membuka hati dan bertobat. Hal ini menggambarkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas sehingga Yesus tidak memaksa masuk. Barulah ketika mereka mau membuka hati untuk-Nya, saat itulah hubungan kasih yang akrab secara pribadi terjalin.

Tuhan senantiasa mengetuk pintu hati kita melalui firman, doa, teguran, juga krisis dalam hidup. Namun, pilihan ada di tangan kita, untuk membuka hati atau menolak-Nya. Ingatlah, membuka hati kepada Tuhan memungkinkan kita menerima hidup yang sejati. Hidup damai, bermakna, dan memiliki tujuan. Kesembuhan dan pemulihan. Juga menghasilkan buah dalam kehidupan. Dan kesemuanya itu hanya akan terjadi ketika kita bersekutu dengan-Nya dalam ketaatan iman. Dan iman berawal dari pertobatan karena ada hati yang terbuka bagi Tuhan. --EBL/www.renunganharian.net


BUKAN PRIBADI YANG SEMPURNA, TUHAN RINDU HATI KITA TERBUKA UNTUK DISEMPURNAKAN-NYA.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media