KEDEWASAAN ROHANI

Baca: 2 Tawarikh 34:1-7


Bacaan tahunan: Amsal 20-23

Kami bersukacita saat sepasang suami-istri memutuskan menjadi murid Yesus dan memberi diri dibaptis setelah belajar Alkitab. Selain karena kuasa Tuhan, mereka terinspirasi anak mereka, yang lebih dahulu dibaptis. Anak yang masih remaja itu setiap hari bersaat teduh dan berdoa. Sikapnya juga berubah. Dulu tidak hormat pada orangtua, sekarang menghormati orangtua.

Yosia berumur delapan tahun saat menjadi raja (ay. 1). Masih sangat muda, tetapi ia dewasa secara rohani. Ia melakukan kebenaran di mata Tuhan dan hidup seperti Daud (ay. 2). Saat berumur 16 tahun, Yosia mulai mencari Tuhan dan, saat berumur 20 tahun, ia membersihkan segala bentuk berhala (ay. 3). Tidak mudah melakukan reformasi spiritual besar-besaran. Tentulah ada pihak yang menentangnya. Namun, Yosia berhasil karena Tuhan ada di pihaknya.

Kita patut bersyukur jika sudah lama menjadi orang Kristen. Namun, ada orang yang sudah puluhan tahun menjadi Kristen, sikapnya masih kekanak-kanakan. Maunya mendengarkan firman Tuhan yang enak di telinga. Saat mengalami kesusahan, mengeluh. Saat dosanya ditegur, marah.

Kita perlu menyadari bahwa kedewasaan rohani seseorang tidak ditentukan dari lamanya ia menjadi orang Kristen, tetapi dari seberapa banyak ia bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Kristus. Kedewasaan rohani juga ditunjukkan dari keberanian untuk berdiri bagi kebenaran apa pun tantangan yang ada. Apakah usia rohani saya berbanding lurus dengan kedewasaan rohani saya? --RTG/www.renunganharian.net


KEDEWASAAN ROHANI DIUKUR DARI SEBERAPA BANYAK KEHIDUPAN KITA DIPERBAHARUI DI DALAM KRISTUS.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media