BERCERMIN PADA TEGURAN

Baca: Amos 7:10-17


Bacaan tahunan: Mazmur 132-138

Jika kita mendengar orang lain menceritakan keburukan kita, tentu hati kita tidak senang. Ini wajar. Tidak ada seorang pun yang suka jika kesalahan atau perbuatan dosanya dibongkar. Dengan alasan yang sama, penolakan Amazia, imam di Betel, atas pemberitaan Amos itu bisa kita maklumi. Inti pemberitaan Amos niscaya membuat bangsa Israel resah. Respons negatif Amazia bisa kita katakan normal karena pemberitaan seperti yang dilakukan Amos ini tak jarang membuahkan pembalasan berupa kekerasan dalam konteks lain.

Amos sendiri hanya menaati perintah Allah yang menyuruhnya pergi ke Israel. Ia tidak sedang mencari makan melalui nubuat-nubuatnya; ia bukan nabi profesional, yaitu mereka yang bernubuat di istana raja dan mendapat dukungan keuangan dari kerajaan. Amazia tidak mau mengerti bahwa pemberitaan hukuman ini merupakan akibat langsung dari dosa-dosa Israel terhadap Allah, yaitu menginjak-injak keadilan dan kebenaran Allah. Sebagai imam, Amazia tak lagi mewakili umat di hadapan Allah, tetapi sekadar menjadi pemasok kebutuhan religiusitas orang Israel, religiositas yang palsu dan jelas-jelas ditolak oleh Allah.

Jika teguran Allah datang, kita harus peka dan siap menerima, baik itu disampaikan Allah melalui orang lain maupun melalui pembacaan firman secara langsung. Teguran tak boleh kita anggap penghinaan, tetapi suatu kesempatan dari Allah untuk kita bertobat, bahkan biarpun penghukuman itu tetap datang pada akhirnya. Kita perlu bercermin pada teguran karena kita manusia yang tidak sempurna. --ENO/www.renunganharian.net


JANGAN BURUK RUPA CERMIN DIBELAH KARENA CERMIN HANYA MEMANTULKAN FAKTA.


Navigation

Change Language

Social Media