KEKASIH YANG TERASINGKAN

Baca: Ulangan 6:4-9


Bacaan tahunan: Amsal 15-19

Ishaan (9 tahun) mengidap disleksia. Dia amat terkendala dalam membaca, menulis, dan banyak hal lain. Studinya berantakan, juga hidupnya. Dia butuh bantuan khusus, tetapi tak seorang pun memahami masalahnya. Sekolah, juga ayah ibunya, hanya melihatnya sebagai anak bodoh, susah diatur, trouble maker.

Kisah dalam film Taare Zamen Par itu membicarakan fakta memilukan: Banyak dari kita tak cukup dekat dengan anak-anak kita, hingga tak cukup mengenal mereka. Ketika sesuatu terjadi pada mereka, kita terkejut. Meski gejalanya sudah lama ada, kita tidak tahu karena kita tidak dekat dengan mereka. Kita tak mengenal, seolah mereka orang asing. Sebagian, itu terjadi karena kita gagal membangun kedekatan dengan mereka. Tetapi, bisa jadi, mereka terasingkan oleh pilihan yang kita ambil, yang (sengaja atau tidak) menggeser mereka dari prioritas kita.

Lewat kiasan "berbaring, bangun, duduk, dan berjalan bersama anak-anak", Ulangan 6:7 berpesan agar kita selalu hadir dalam kehidupan anak-anak kita: karib bersahabat dengan mereka, menyediakan waktu untuk mereka, dan menempatkan mereka sebagai prioritas. Itu diperlukan agar kita mengenal mereka, memahami persoalan mereka, dan punya peluang untuk menolong mereka. Mengapa?

Peluang untuk menolong anak-anak tak akan ada, kecuali kita mengenal mereka. Upaya mengenal mereka tak punya jalan, kecuali kita berkarib erat dengan mereka. Dan, semua itu mustahil, kecuali mereka adalah prioritas kita. Di situlah cinta dan tanggung jawab ditakar. --EE/www.renunganharian.net


ANAK-ANAK BISA TERASINGKAN JUSTRU OLEH PILIHAN-PILIHAN KITA, YANG- DISENGAJA ATAU TIDAK- MENGGESER MEREKA DARI PRIORITAS KITA.


Navigation

Change Language

Social Media