HUTAN BAKAU KEHIDUPAN

Baca: Kejadian 50:15-21


Bacaan tahunan: Yesaya 38-42

Menurut data FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB) 2005, Indonesia memiliki hutan bakau terluas di dunia. Hutan yang tumbuh di pertemuan laut dan daratan ini sangat krusial. Akar bakau mampu menahan gempuran air laut supaya tidak merusak daratan. Tanpa perlindungan bakau, air laut akan mengikis pantai, menggerus bebatuan, dan mencemari air tanah. Selain itu, badai dan tsunami yang terjadi di laut lepas juga dapat menghajar daratan tanpa ampun.

Yusuf mengalami banyak gempuran dalam hidupnya. Ia dilemparkan ke dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah, bahkan dijebloskan ke penjara. Nasib buruk yang bertubi-tubi ini seharusnya menimbulkan amarah dalam hatinya. Orang-orang mungkin akan memaklumi andaikata ada kepahitan dalam kata-kata dan perbuatannya. Namun, ternyata Yusuf sama sekali tidak menyimpan dendam. Justru, kata-kata penghiburan dan ucapan syukur yang terucap dari bibirnya (ay. 19-21).

Kita kadang-kadang juga menerima cercaan atau perbuatan buruk dari orang lain. Kita ibarat pantai yang digempur gelombang laut. Tanah hati yang baik ini bisa terkikis, relung jiwa yang murni bisa tergerus, dan nilai-nilai moral bisa tersapu bersih. Kita membutuhkan hutan bakau kehidupan, yaitu pengenalan akan Allah melalui firman-Nya. Maka, kita tidak akan meneruskan keburukan yang sama kepada "daratan, " yaitu lingkungan di sekitar kita. Sebaliknya, kita menyebarkan apa yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan, dan patut dipuji. --TAF/www.renunganharian.net


PENGENALAN KITA AKAN ALLAH MEMAMPUKAN KITA MENGHADANG YANG BURUK DAN MENERUSKAN YANG BAIK.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media