FUNGSI BUKAN POSISI

Baca: Lukas 9:46-48


Bacaan tahunan: Yesaya 27-31

Kata blusukan (bahasa Jawa) biasanya mengacu pada aktivitas pemimpin yang mau turun ke bawah, tidak gengsi dengan posisi atau jabatannya, dan mau berinteraksi dengan rakyatnya. Para abdi masyarakat belakangan ini marak diberitakan menjalankan aktivitas blusukan ini. Beberapa orang dari mereka disoroti media ketika membantu tim kebersihan kota menangani sampah yang menyumbat aliran air sungai.

Konsep tentang menjadi yang terkecil sulit dipahami oleh para murid Yesus. Mereka tahu Yesus datang ke dunia sebagai pemimpin atau lebih tepatnya sebagai Mesias bagi Israel. Namun, rupanya para murid memahami kedatangan Yesus sebagai pemimpin politik. Hal itu membuat mereka bangga atau merasa istimewa sehingga saling memperebutkan posisi (ay. 46). Melihat perselisihan ini, Yesus meluruskan pemahaman mereka: Dia secara jelas menyatakan bahwa untuk menjadi yang terbesar, mereka harus mau menjadi terkecil (ay. 48). Seorang pemimpin bersedia melayani, bukan memerintah dan menggunakan posisinya untuk minta dilayani (bdk. Mrk. 9:35). Sungguh berbeda dengan konsep dunia. Yesus ingin murid-murid-Nya memahami bahwa menjadi terbesar itu soal fungsi dan bukan posisi.

Menjadi hamba atau pelayan bagi orang lain tidaklah mudah. Menjadi pelayan menekankan pada sikap hati, yaitu kerelaan untuk tunduk kepada pemimpin, tetapi juga mau bergaul dengan orang yang posisinya lebih rendah dari kita. Siapkah kita memiliki sikap hamba yang demikian tanpa gengsi? --YDS/www.renunganharian.net


PEMIMPIN VERSI KERAJAAN ALLAH ADALAH PELAYAN BAGI SESAMA.


Navigation

Change Language

Social Media