Alkitab, Renungan Harian, Ayat Emas, Pujian...
Baca: LUKAS 15:11-24
Bacaan tahunan: Ezra 4-7
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita lupa diri. Bukan karena kehilangan ingatan, melainkan karena kehilangan arah batin. Seperti si bungsu, kita pergi jauh dari rumah Bapa, mengira bahwa kebebasan adalah melepaskan diri dari Bapa, dan yang kemudian kita temukan adalah kehampaan, kelaparan (ay. 14-16). Lupa diri-yakni memisahkan diri dari Bapa, Sang Sumber Hidup-selalu berujung pada kehampaan batin dan kelaparan jiwa.
Lupa diri mengintai kita melalui banyak kesempatan: ketika kita menilai diri dari keberhasilan semata, kala suara sekitar lebih kita dengarkan daripada suara kebenaran, saat kita begitu sibuk hingga tak punya waktu untuk Tuhan. Kita bekerja keras, berlari mengejar pengakuan, lalu diam-diam kehilangan damai.
Kehampaan batin dan kelaparan jiwa membuat si bungsu teringat rumah Bapanya, menyadari dirinya, dan memutuskan untuk pulang. "Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku" (ay. 18). Ia tahu Bapanya akan selalu menerimanya.
Sesungguhnyalah, tiap kali kita lupa diri, Tuhan berharap kita ingat untuk pulang. Pulang bukan berarti mundur, tetapi menemukan kembali arah sejati perjalanan hidup, mengenali siapa sebenarnya diri kita: bukan budak kesibukan, bukan bayangan ambisi, melainkan anak terkasih yang dirindukan oleh Bapa.
Maka, mari kita menengadah kepada Bapa, dan berkata seperti si bungsu, "Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku." Pulang, untuk menemukan kembali diri kita yang hilang, untuk menemukan kembali arah sejati perjalanan hidup yang sempat kita lupakan. --EE/www.renunganharian.net
LUPA DIRI ADALAH KEHILANGAN ARAH BATIN. DAN PULANG ADALAH MENEMUKAN KEMBALI ARAH SEJATI PERJALANAN HIDUP.
Please sign-in/login using: