LEBIH BAIK MENDERITA?

Baca: 1 PETRUS 3:13-22


Bacaan tahunan: 1 Raja-raja 10-11

Hikmat manusia menganggap bahwa berbuat baik menghindarkan kita dari rupa-rupa penderitaan. Sebab, penderitaan adalah konsekuensi dari perbuatan jahat. Namun, faktanya penderitaan tidak selalu muncul sebagai upah kejahatan. Kesetiaan kepada Kristus kadang membawa kita pada penderitaan. Bahkan adakalanya penderitaan semakin berat saat kita memilih untuk tetap berdiri tegak memegang kebenaran. Saat kita memilih jujur di tengah sistem yang korup, misalnya.

Petrus mengajarkan bahwa menderita karena perbuatan baik adalah sebuah berkat. Penderitaan juga bisa terjadi karena kehendak Allah. Sebagaimana Kristus hidup menderita demi melakukan kehendak Allah dengan sempurna, pengikut-Nya pun selalu memiliki kemungkinan turut menanggung penderitaan karena kebenaran. Dengan demikian, penderitaan demi kebenaran berkenan kepada Allah karena kita berjalan dalam kehendak-Nya. Allah menghargai itu sehingga Ia menyebut orang yang menderita karena kebenaran dengan "berbahagia" (bdk. Mat. 5:3-12).

Penderitaan dalam kebenaran menjadi kesaksian iman, sebab tetap bersukacita dan berpengharapan di tengah penderitaan membuat dunia melihat perbedaan itu. Jika Kristus telah lebih dulu menderita dan berakhir pada kemenangan, penderitaan juga membuat kita dipersatukan dengan Kristus: menderita dengan Dia, dimuliakan bersama Dia (bdk. Rm. 8:17). Penderitaan membentuk hati yang taat, sabar, dan murni. Penderitaan mengajar kita mengandalkan Tuhan. Jika demikian, bukankah lebih baik menderita karena melakukan kehendak Tuhan? --EBL/www.renunganharian.net


ALLAH MEMAKAI PENDERITAAN KITA UNTUK MEMURNIKAN IMAN, MENJADI KESAKSIAN, DAN MENYATUKAN KITA BERSAMA KRISTUS DALAM KEMULIAAN.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media