MENINGGALKAN DIRI SENDIRI

Baca: 1 KORINTUS 7:3-4


Bacaan tahunan: Bilangan 21-22

Pesan Rasul Paulus dalam bacaan hari ini memang mengenai kehidupan seksual dalam pernikahan. Namun, pesan tersebut sebenarnya juga berbicara tentang hal yang lebih luas, lebih mendasar, dan lebih menentukan bagi kehidupan pernikahan. Apa itu?

"Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya." Rasul Paulus tak hendak berkata bahwa dalam pernikahan, suami dan istri tidak berwenang atas diri sendiri dan tidak berhak mengambil keputusan untuk diri sendiri. Rasul Paulus tahu benar bahwa suami maupun istri punya otonomi, dan berhak mengambil keputusan sendiri. Namun, Rasul Paulus menasihatkan agar dengan otonomi dan hak itu, suami maupun istri memutuskan dan bertekad untuk memberikan diri bagi pasangan mereka sedemikian rupa sehingga prioritas istri bukan lagi dirinya, tetapi suaminya, dan prioritas suami bukan lagi dirinya, tetapi istrinya.

Dengan kata lain, Rasul Paulus menasihati agar suami dan istri meninggalkan diri sendiri, yakni mematikan hasrat untuk mengutamakan diri sendiri, dan menggantinya dengan tekad untuk mengutamakan pasangan mereka. Itu berlaku tak hanya dalam kehidupan seksual, tetapi dalam semua sisi kehidupan pernikahan.

Beratkah itu? Ah, itu bukan soal berat atau ringan, melainkan soal cinta. Tanpa cinta, semua akan berat, bahkan mustahil. Namun, jika cinta sungguh ada, meninggalkan diri sendiri adalah hal yang dengan sukacita akan dijalani.

Maka kebahagiaan pun datang menghampiri. --EE/www.renunganharian.net


CINTA SEJATI MENGGESER TIAP HASRAT MENGUTAMAKAN DIRI SENDIRI DAN MENGGANTINYA DENGAN KESEDIAAN UNTUK MENINGGALKAN DIRI SENDIRI.


Recent Comments

Navigation

Change Language

Social Media