RASA BERSALAH

Baca: Matius 27:1-10


Bacaan tahunan: 2 Samuel 15-16

Setidaknya ada tiga macam rasa bersalah. Pertama, rasa bersalah positif. Ini membuat kita mengintrospeksi kesalahan kita dan belajar agar tidak jatuh di lubang yang sama. Kedua, rasa bersalah "cuek". Seseorang bisa merasa bersalah, namun ia tidak melakukan introspeksi atau belajar dari kesalahan yang ia lakukan. Ketiga, rasa bersalah negatif. Seseorang merasa bersalah, namun justru ia melakukan sesuatu yang negatif sebagai kelanjutan dari kesalahannya itu.

Daud dan Yudas Iskariot sama-sama pernah melakukan pelanggaran. Mereka sama-sama merasa bersalah. Meski demikian, ada perbedaan besar dari rasa bersalah mereka. Kita tahu bahwa Daud melakukan dosa besar saat ia melakukan dosa perzinahan dan pembunuhan berencana. Setelah ia mendapatkan teguran dari Allah, ia menyesal dan merasa bersalah. Rasa bersalah yang ia rasakan adalah rasa bersalah positif karena ia belajar dari kesalahan yang pernah ia lakukan dan tidak mengulangi kesalahan di waktu berikutnya (2Sam. 12:13).

Sebaliknya, Yudas Iskariot menunjukan rasa bersalah negatif. Ia merasa bersalah setelah ia mengkhianati dan menjual Yesus. Namun, bukannya mengambil respons yang benar, ia justru mengambil langkah negatif dengan bunuh diri (ay. 5).

Setiap kita pasti tidak luput dari kesalahan yang membuat kita merasa bersalah. Namun, pertanyaannya: Rasa bersalah mana yang kita pilih? Positif, "cuek", atau negatif?

Mari belajar untuk selalu mengintrospeksi, mengoreksi, dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di lain waktu. --SPP/www.renunganharian.net


RASA BERSALAH SEHARUSNYA MEMBUAT SESEORANG MENJADI LEBIH BAIK.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media