PROGRAM ROTI GRATIS

Baca: Kisah Para Rasul 20:31-35


Bacaan tahunan: Yosua 9-10

Saya pernah membaca informasi bahwa di Australia, roti yang dijual untuk umum tidak boleh menginap. Ketika sore hari masih ada roti tersisa, akan dikumpulkan lalu diberikan pada masyarakat yang membutuhkan secara gratis. Hal yang menarik adalah hampir tidak ada warga setempat yang sengaja menunggu sampai sore untuk mendapat roti gratis. Mereka menyadari bahwa "roti gratis" itu dibuat untuk warga yang kurang mampu sehingga warga yang mampu tidak menyentuhnya.

Seseorang yang terbiasa "membayar" untuk mendapatkan sesuatu, menandakan mentalitas memberi dalam diri mereka. Tak jarang, mereka bahkan akan berpikir keras untuk membalas kebaikan yang mereka terima secara cuma-cuma. Ketika sedang makan bersama, terutama bagi mereka yang mampu, mereka akan memilih mentraktir daripada ditraktir. Rasul Paulus termasuk orang semacam ini. Lihatlah bagaimana ia menanggung biaya perjalanan dari rekan-rekan sepelayanannya (ay. 34). Paulus juga menasihati agar umat Tuhan memerhatikan orang-orang yang lemah dan berkekurangan, sambil mengingat ajaran Yesus: terlebih berbahagia memberi daripada menerima.

Seseorang yang gemar memberi tidak akan tergoda mengambil hak orang lain, terlebih bagi kepentingan pribadinya. Ia akan selalu menantikan saat untuk memberi dan berbagi, karena ia berbahagia melakukan tindakan mulia itu.

Apakah kita ingin menjadi orang yang berbahagia? Ada baiknya kita mulai meninggalkan mentalitas gratisan dan melatih diri untuk memberi dan berbagi. Selamat berbahagia! --GHJ/Renungan Harian


MEMBERI ADALAH PERBUATAN ILAHI, SEHINGGA MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN BAGI PELAKUNYA.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media