MELAWAN KANTUK

Baca: Matius 26:36-44


Bacaan tahunan: Yehezkiel 33-36

Sebuah penelitian di Amerika melaporkan berapa lama orang menghabiskan waktu dalam sehari untuk menatap monitor piranti elektroniknya. Anak-anak menghabiskan waktu rata-rata 6 jam, remaja 9 jam, dan orang dewasa 2 jam. Angka-angka tersebut menandakan betapa banyak perhatian orang tersedot oleh piranti elektronik.

Bagaimana jika dibandingkan dengan penggunaan waktu untuk berdoa? Peristiwa di Taman Getsemani antara lain menyoroti aspek ini. Salah satu rintangan orang untuk berdoa dengan khusyuk adalah rasa kantuk, seperti yang dialami murid-murid Yesus. Mendapati mereka tertidur, Yesus menantang mereka untuk berdoa dan melawan kantuk paling tidak satu jam (ay. 40). Nyatanya, mereka kembali tertidur. Tampaknya doa bukan aktivitas yang memikat perhatian sehingga orang tahan berjaga-jaga selama beberapa jam untuk melakukannya.

Pertanyaannya, seberapa erat hati kita melekat pada Yesus? Seberapa besar minat dan kerinduan kita untuk bersekutu bersama-Nya? Jika kita menganggap berdoa dan bersekutu dengan Tuhan melalui firman-Nya itu sebagai aktivitas yang penting, kita akan memprioritaskannya, mengatasi rintangan yang mungkin muncul, dan meluangkan waktu khusus untuk melakukannya.

Selain itu, kita perlu mengubah cara pandang tentang doa. Doa bukanlah beban atau kewajiban yang memberatkan. Sebaliknya, doa adalah kehormatan dan kesempatan untuk bersekutu dengan Tuhan yang begitu mengasihi kita. Tidakkah kita bersukacita meluangkan waktu dengan-Nya? --PAD/www.renunganharian.net


BERDOA ADALAH KESEMPATAN ISTIMEWA UNTUK MELUANGKAN WAKTU KHUSUS BERSAMA DENGAN TUHAN YANG MENGASIHI KITA.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media