LIDAH YANG BIJAKSANA

Baca: Amsal 15:1-33


Bacaan tahunan: Yehezkiel 22-24

Konon seorang perempuan kulit putih mengajak anaknya naik taksi yang dikemudikan pria kulit hitam. Anak itu baru pertama kali melihat orang kulit hitam sehingga ia ketakutan. "Bu, apakah orang ini penjahat? Apakah yang dilakukannya sehingga kulitnya begitu hitam?" Sopir terdiam sedih. Ibu itu menjelaskan, "Bukan, Nak. Ia orang yang baik. Kamu ingat ketika kita bermain di kebun bunga? Ingat biji-biji bunga yang kita lihat itu? Banyak yang berwarna hitam, tetapi bunga yang memenuhi taman itu berwarna-warni!" Anak itu mengangguk-angguk. Kini ia tersenyum, tidak takut lagi pada sopir taksi.

Menurut Amsal, hati orang benar menimbang-nimbang jawabannya, tetapi mulut orang fasik mencurahkan hal-hal yang jahat (ay. 28). Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan (ay. 2), tetapi lidah curang melukai hati (ay. 4). Menyadari hal ini, pemazmur memiliki tekad, untuk menjaga diri, supaya jangan berdosa dengan lidahnya, hendak menahan mulutnya dengan kekang (Mzm. 39:2), dan memohon Tuhan untuk mengawasi mulut dan berjaga pada pintu bibirnya (Mzm. 141:3).

Banyak orang menggunakan mulutnya untuk mengucapkan kata-kata yang melemahkan dan menghancurkan kehidupan orang lain. Setiap berbicara, dari mulutnya keluar silet, pisau, atau golok, yaitu perkataan yang menyayat, menyakiti, melukai dan memedihkan perasaan orang lain. Hendaklah kita menggunakan mulut secara bijak sehingga jawaban dan penjelasan kita dapat membangun, menguatkan orang lain, menenangkan dan menyejukkan suasana. --IN/www.renunganharian.net


MULUT YANG DIKENDALIKAN TUHAN PASTI MENGELUARKAN PERKATAAN YANG MEMBERKATI ORANG LAIN.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media