KEPEKAAN JIWANI

Baca: Matius 13:10-15


Bacaan tahunan: Yehezkiel 20-21

Siapa mempunyai, kepadanya akan diberi sampai melimpah. Siapa tidak mempunyai, apa pun yang ada padanya akan diambil. Apa gerangan maksud Tuhan? Itu bukan soal harta. Tuhan berfirman tentang kepekaan jiwani, yang memampukan orang merasakan kehadiran Tuhan dalam situasi yang dihadapi, yang menolong orang menangkap maksud Tuhan, dan memberi respons yang sesuai.

Masalahnya, kita terbiasa tidak peka. Akibatnya: kita tidak merasakan kehadiran Tuhan, tidak menangkap maksud Tuhan dalam situasi di depan kita, dan gagal memberi respons yang sesuai. Contohnya? Melihat sesama dalam kesulitan, orang tidak tergerak membantu. Di tengah sesama yang berkekurangan, orang hidup bermewah-mewah. Orang menjual sesuatu karena terjepit kebutuhan, kita menawar dengan harga rendah. Di tengah kebutuhan yang mendesak, orang menimbun sembako demi keuntungan yang lebih besar.

Memiliki kepekaan jiwani adalah soal pilihan. Jika kita memilih untuk peka dan berusaha selalu peka, makin hari kita akan makin peka. Jika kita memilih untuk tidak peka (dengan menafikan tiap sinyal yang menyentuh hati kita), kita akan makin tumpul, dan akhirnya sama sekali tumpul. "Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya", begitu firman Tuhan.

Dunia masih berlangsung. Dalam semua itu, kita harus menentukan diri: memilih untuk menjadi peka dan makin peka, atau memilih untuk menjadi tumpul dan makin tumpul. --EE/www.renunganharian.net


JIKA KITA SELALU MEMILIH UNTUK TIDAK PEKA, KITA AKAN SEPENUHNYA TUMPUL.


Navigation

Change Language

Social Media