KELEMAHAN TITANIC

Baca: Hakim-hakim 16:16-22


Bacaan tahunan: Yosua 4-6

Pada 15 April 1912 kapal pesiar termegah kala itu, Titanic, tenggelam setelah menabrak gunung es di Lautan Atlantik. Dari 2.208 penumpang hanya 712 orang yang berhasil diselamatkan. Ternyata di kapal itu hanya tersedia 20 perahu penyelamat. Banyak yang berkomentar, itulah kelemahan Titanic: tidak tersedia cukup perangkat darurat. Benarkah begitu? Secara teknis demikian, tetapi sebenarnya persoalannya lebih dalam lagi. Kegagalannya menyelamatkan penumpang bersumber dari sebuah kesombongan. Sesumbar bagi kapal megah itu ialah "tidak mungkin tenggelam".

Detik-detik terakhir pudarnya kekuatan Simson dikisahkan dalam bacaan hari ini. Kapan kekuatannya lenyap? Di manakah kelemahannya? Sepintas kita akan menyangka pada rambutnya yang pantang untuk dicukur itu. Memang, secara teknis, sejak rambutnya dipangkas, Simson lemas. Namun sesungguhnya persoalannya lebih dalam lagi. Sudah lama ia meremehkan janji kenaziran yang ditetapkan Tuhan baginya, sampai ujungnya ia benar-benar mengkhianatinya. Sungguh ironis, ia sampai tidak tahu ketika Roh Tuhan sudah meninggalkannya. Ia pongah, merasa kekuatannya berada dalam kendalinya.

Ketidaksetiaan dan kejatuhan bisa bersumber dari kecerobohan seseorang yang terus mempermainkan karunia Tuhan. Sesungguhnya, karunia-Nya kepada kita tak terkira. Tenaga. Kesempatan. Kesehatan. Bakat. Harta. Keterampilan, dan sebagainya. Kiranya kita jangan mempermainkannya agar kita jangan tertimpa akibatnya. --PAD/Renungan Harian


SEMUA KEJATUHAN MANUSIA BERSUMBER DARI SIKAP MEMANDANG RINGAN TUHAN DAN ANUGERAH-NYA.


Comments powered by Disqus

Navigation

Change Language

Social Media