BEGITULAH KITA JADINYA

Baca: Yosua 24:13-18


Bacaan tahunan: Yesaya 38-42

"A retired husband is often a wife's fulltime job, " kata Ella Harris. Suami yang pensiun sering menjadi beban bagi istrinya. Ella Harris berbicara tentang sebuah fakta: Memasuki masa pensiun, banyak orang-pria maupun wanita- menjadi beban bagi sesama karena perangai mereka berubah menjadi menyulitkan: rendah diri, terlalu sensitif, rewel, mudah marah, dan sebagainya. Tentu, tak semua pensiunan seperti itu. Namun, tak sedikitlah pensiunan yang memang demikian. Faktor apakah penentu semua itu?

"We are our choices, " kata Jean-Paul Sartre. "Kita adalah pilihan-pilihan kita." Kita menjadi seperti yang kita pilih: Menjadi pemarah atau penyabar adalah pilihan kita. Menjadi terlalu sensitif atau berlapang dada, itu pun karena pilihan kita. Kita mudah tersinggung jika kita memilih untuk mudah tersinggung, dan selalu penuh maklum jika kita sungguh memilih untuk selalu penuh maklum.

Umat Tuhan akan memasuki Kanaan: tahap baru, situasi baru, tantangan baru. Sikap yang sesuai sangatlah dibutuhkan. Pesan Yosua, "Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah" (ay. 15). Memilih "kepada siapa kamu akan beribadah" adalah langkah yang amat penting. Itu adalah memilih pusat hidup, memilih tujuan hidup, pilihan yang menentukan apa jadinya mereka dalam hidup.

Demikianlah. Di tahap purna tugas (dan tahap mana pun dalam hidup), dengan memandang Sang Pusat Hidup, pilihan kitalah yang menentukan apa jadinya kita: menjadi beban bagi sesama (seperti kata Ella Harris), atau justru menjadi berkat. --EE/www.renunganharian.net


SESUNGGUHNYA, PILIHAN KITALAH YANG MENENTUKAN APA JADINYA KITA.


Navigation

Change Language

Social Media